Katarak pada murai batu, dapat diartikan murai batu yang mengidap kelainan pada matanya, di mulai dari memudarnya warna hitam pada retina yang apabila diarahkan sinar kearah mata seperti tembus bening/transparan, dan perubahan prilaku sensitif terhadap pancaran cahaya terang khususnya pada waktu penjemuran sensitif dengan sinar mata hari dengan menutup mata yang terindikasi ada gejala katarak [entah apa sebabnya umumnya gejala katarak muncul lebih dulu pada mata kiri]...
Banyak penyebab mengapa burung kita bisa sampai mengidap katarak, antara lain:
- Luka atau trauma akibat gerakan tak terkendali karena burung belum jinak atau ada yang membuatnya kaget,panik,secara instink burung menyelamatkan diri dengan membenturkan diri ke kandang dengan benturan yang cukup keras terhadap ruji dengan spasi yang agak renggang dapat membuat matanya terluka atau memar dengan frekuensi yang sering mengakibatkan juga kerusakan jaringan dan syaraf pada mata.
- Perubahan cahaya yang cepat, dalam artian mata burung memerlukan penyesuaian terhadap intensitas cahaya tinggi (ketika penjemuran /luar ruangan) dengan kondisi intensitas cahaya rendah (posisi di dalam ruangan atau dalam krodong), idealnya lakukan terlebih dahulu pengadaptasian mata terhadap perubahan intensitas cahaya tersebut dengan menggantung burung di teras atau diangin-anginkan sejenak di tempat teduh kira-kira 10-20 menit.
-Konsumsi berlebih pakan dengan kandungan lemak yang tinggi, contoh pakan dengan kandungan lemak tinggi adalah ulet hongkong/meal worm dengan kandungan lemak hingga 40%. Jika dikonsumsi secara berlebih dan terus menerus dikhawatirkan terjadinya penumpukan lemak yang juga membahayakan kesehatan secara menyeluruh, solusi untuk sedikit mengurangi kandungan lemaknya dengan mematikan dahulu ulat hongkong dengan cara direndam pada air panas,sebelum diberikan pada burung kesayangan ulat harus sudah dalam suhu normal dengan diangin-anginkan lebih dahulu.
-Terpapar debu, yang mengakibatkan iritasi pada mata apabila tanpa penanganan dan daya tahan lemah kuman dapat dengan mudah menginfeksi mata,yang mengakibatkan kerusakan jaringan mata.
- Over Dosis penggunaan obat mata pada saat melakukan pengobatan infeksi pada mata burung kesayangan kita, over dosis disini juga dapat diartikan penggunaan formula obat mata yang salah, seperti misal menggunakan obat mata untuk manusia dengan zat aktif yang terlalu keras untuk aplikasi pengobatan pada burung, oleh karenanya disarankan penggunaan obat-obatan yang sesuai untuk peruntukannya dan dosis yang terukur sesuai ketentuan yang dibuat produsen obat-obatan tersebut.
- Genetik.. Sebenarnya belum ada yang bisa membuktikan secara ilmiah keterkaitan katarak dengan genetik pada murai batu, tetapi mungkin ada kaitannya dengan kemampuan tubuh menangkal penyakit,dan itu diturunkan secara genetik.
Akangkah baiknya apabila kita dapat mencegah murai kesayangan kita dari kemungkinan terkana katarak dengan perawatan yang baik se-ideal mungkin sesuai dengan kebutuhan dari Murai Batu kesayangan kita,namun apabila penyakit katarak sudah terlanjur terjadi maka yang dapat dilakukan adalah:
- pertama dapat dilakukan apabila murai kita terdetekasi mengidap katarak (deteksi sedini mungkin amat penting, karena berpengaruh terhadap peluang keberhasilan pengobatan). Hindari paparan cahaya intensitas tinggi dengan kata lain harus sering dikrodong dan kurangi durasi jemur atau bahkan tidak perlu penjemuran cukup diangin-angiinkan diteras sekedar mendapat kehangatan dan sirkulasi udara.
- perbanyak makanan yang memilik gizi tinggi, alangkah baik jika burung mau makan telur rebus,beri telur dengan kandungan omega3 dan betacaroten, perbanyak asupan vitamin khususnya dengan kandungan vitamin B, vitamin A,dan vitamin C, bisa juga menggunakan sirup vitamin anak-anak yang disuntikkan ke jangkrik. Jika burung mau makan buah bisa sangat membantu asupan vitamin dan serat harian. Madu perlu juga diberikan untuk meperbaiki pencernaan.
- kurangi makanan beresiko,dan hilangkan menu makanan tinggi lemak. Pemberian jangkrik bisa dikurangi karena menurut saya jangkrik termasik makanan beresiko. Ulat hongkong di stop-jangan diberikan.
- untuk mengobati bagian matanya, bisa menggunakan obat mata khusus burung yang sudah banyak beredar di pasaran tersedia dalam bentuk tetes mata maupun salep yang perlu diingat dalam pengaplikasian obat mata harus sesuai dosis dan aturan pakai yang disarankan, Bisa juga menggunakan madu (dan produk turunannya) yang telah diuji coba dapat mengobati katarak pada manusia.
Sebisa mungkin jangan menangkap-memegang burung ketika melakukan pengobatan,karena beresiko membuat stres, tekanan berlebih di dagian dada menyebabkan burung sulit bernafas, yang berakibat denyut jantung tak beraturan dan penurunan suhu tubuh. Jika mengharuskan burung untuk dipegang, tangkap dengan lembut jangan dengan gerakan tiba-tiba yang membuat takut berlebih, jangan memegang burung terlalu kuat, lakukan dengan cara menjepit leher burung di antara jari telunjuk dan jari tengah dengan ringan sekedar untuk menahan bagian bahu burung,sehingga tidak perlu menggenggam secara berlebih untuk menahan tubuh burung, sehingga resiko dada tertekan dapat di minimalisir.
- Sabar dan ikhlas. Karena itulah konsekuensi dari memiliki dan merawat burung-mahluk hidup yang segala sesuatunya bergantung atas kebaikan hati sang pemilik. Diharapkan dengan kita mengharap yang terbaik tentunya kita juga bisa memberika segala yang terbaik bagi burung kesayangan kita.
Semoga dapat menjadi bahan masukan, sedikit banyaknya tulisan ini dapat bermanfaat, karena memang membahas permasalahan katarak pada burung belum ada solusi pengobatan yang 100% berhasil, keberhasilan yang terjadi hanya kasus per kasus, tapi paling tidak kita sudah mengusahakan untuk kesembuhan mata burung kita yang terkana katarak.
Selasa, 13 Mei 2014
Senin, 12 Mei 2014
Study - Pengaruh padat penebaran dan jenis pakan terhadap produktifitas ternak jangkrik
Jangkrik (Gryllus sp.) adalah jenis serangga yang dikenal masyarakat sebagai pakan satwa piaraan khususnya aneka burung berkicau dan satwa pemakan serangga. Di USA dan Kanada, selain dimanfaatkan sebagai pakan satwa piaraan dan umpan memancing ikan, jangkrik juga digunakan sebagai hewan laboratorium karena memiliki beberapa kelebihan diantaranya siklus hidupnya pendek, jarang terkena penyakit, murah harganya serta mudah beradaptasi dengan lingkungan dan pakan yang diberikan. Dari aspek nutrisi jangkrik berpotensi sebagai sumber protein hewani alternatif karena mengandung nutrisi dan asam amino cukup lengkap sehingga mampu menggantikan sebagian tepung kedelai dan tepung ikan dalam formula pakan ayam broiler. Di Indonesia jangkrik umumnya diperjualbelikan di pasar lokal dan sejalan dengan makin banyaknya penggemar satwa piaraan, permintaan komoditas ini cenderung meningkat. Masalah utama yang sering muncul adalah belum adanya kontinyuitas penyediaan jangkrik di pasaran akibat keberadaan satwa ini hanya bergantung dari hasil tangkapan di alam, sementara populasi mereka tergantung musim. Masalah lain adalah terganggunya keseimbangan siklus hidup jangkrik di alam akibat perburuan yang terus menerus, kerusakan habitat dan dampak penggunaan insektisida. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu diupayakan pengembangan metode budidaya dengan mengkaji aspek-aspek yang berkaitan dengan produktivitas jangkrik. Informasi-informasi yang berhubungan dengan teknik pemeliharaan, jenis dan perilakujangkrik, pakan, padat penebaran, sex rasio dan produktivitas sangat diperlukan sehingga suatu penelitian telah dirancang untuk mengkaji aspek-aspek tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh padat penebaran dan jenis pakan terhadap produktivitas tiga spesies jangkrik lokal yang dibudidayakan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Non Ruminansia dan Satwa Harapan Fakultas Peternakan IPB Bogor dan identifikasi jangkrik dilakukan di Balai Penelitian dan Pengembangan Zoologi - LIPI, Cibinong. Dalam penelitian ini digunakan tiga spesies jangkrik lokal yakni Gryllus bimaculatus De geer (jangkrik kalung atau jliteng), Gryllus mitratus Burn (jangkrik bering) dan Gryllus testaceus Walk (jangkrik gawang) serta dua perlakuan pakan yang terdiri dari kombinasi pakan buatan ditambah sawi hijau dan kombinasi pakan buatan ditambah daun pepaya. Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap percobaan, masing-masing untuk mengevaluasi : (1). Pengaruh padat penebaran dan jenis pakan terhadap pertumbuhan dan mortalitas jangkrik lokal fase instar dengan tingkat padat penebaran 500, 750, 1000 ekor/kotak; (2). Pengaruh sex rasio dan jenis pakan terhadap produksi dan daya tetas telur, dengan perbandingan jantan betina 1:1, 1:5, 1:9 dan (3). Pengaruh padat penebaran induk dan jenis pakan terhadap mortalitasdan produksi telur kumulatif jangkrik yang dipelihara secaramassal, dengan tingkat padat penebaran 50, 100, 150 ekor induk serta rasio jantan betina 1:5. Penelitian Tahap I dan Tahap III dilakukan dengan menggunakan kotak tripleks berukuran 60 x 45 x 30 cm sebanyak 54 buah, Tahap II menggunakan kotak plastik ukuran 40 x 30 x 15 cm masing-masing dengan pemberian pakan ad libitum. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok pola faktorial 3x3x2 dengan ulangan tiga kali. Data yang diperoleh dianalisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji kontras orthogonal. Hasil penelitian menunjulckan bahwa padat penebaran hingga 1000 ekor/kotak pada fase instar tidak mempengaruhi pertumbuhan tetapi cenderung meningkatkan mortalitas, terutama spesies G. bimaculatus sementara dua spesies yang lain tidak terpengaruh Demikian juga padat penebaran yang semakin tinggi pada pemeliharaan massal cenderung menurunkan produksi telur kumulatif. Hasil analisis statistik menunjukkanbahwa perbedaan spesies berpengaruh sangat nyata (P < 0.01) terhadap pertambahan bobot hidup, konsumsi pakan,konversi, bobot badan akhir instar, produksi telur, daya tetas telur dan mortalitas. Pertambahan bobot hidup dan konversi pakan terbaik dihasilkan spesies G. bimaculatus (12.50 mg/ekor/hari; 0.89) diikuti G. mitratus (7.62 mg/ekor/hari; 0.96) dan terendah G. testaceus (5.69 mg/ekor/hari; 0.95). Bobot badan akhir instar tertinggi dicapai oleh G. bimaculatus (501.47 mg/ekor) diikuti G. mitratus (306.13 mg/ekor) dan terendah G. testaceus (228.86 mg/ekor). Mortalitas fase instar tertinggi oleh G. bimaculatus (45.86%) diikuti G. mitratus (33.99%) dan terendah G. testaceus (28.41%). Rataan produksi telur tertinggi dicapai G, mitratus (2576 butir/ekor) diikuti G. testaceus (1961 butir/ekor) dan terendah G. bimaculatus (1375 butir/ekor). Daya tetas telur tertinggi dihasilkan oleh G. mitratus (63.56%) diikuti G. bimaculatus (60.23%) dan terendah G. testaceus (39.66%). Produksitelur kumulatif terendah dan mortalitas tertinggi pada pemeliharaan massal berturut-turut adalah G. bimaculatus (produksi 203 butir/ekor, mortalitas 35.04%); G. testaceus (produksi 734 butir/ekor; mortalitas 9.69%) dan G mitratus (produksi 844 butir/ekor; mortalitas 9.49%). Perbedaan pakan tidak berpengaruh pada mortalitas dan daya tetas telur, tetapi nyata berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi telur. Pada ketiga spesies, pemberian kombinasi pakan buatan dan sawi hijau menghasilkan pertambahan bobot badan, konsumsi pakan, konversi, bobot badan akhir instar dan produksi telur lebih tinggi dibanding kombinasi pakan buatan ditambah daun pepaya. Perbedaan sex rasio tidak berpengaruh nyata padaproduksi telur, tetapi sex rasio yang semakin tinggi cenderung menurunkan daya tetas telur. Daya tetas telur pada perlakuan sex rasio 1:1 (55.55%) dan sex rasio 1:5 (57.25%) secara statistik tidak menunjukkan perbedaan tetapi hasil tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengandaya tetas pada sex rasio 1:9 (50.64%). Dalam penelitian ini sex rasio 1:5 menghasilkan daya tetas tertinggi dan direkomendasikan untuk digunakan pada penelitian Tahap III. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa spesies G. bimaculatus memiliki laju pertumbuhan dan konversi pakan terbaik, tetapi pada fase produksi, spesies G. mitratus menghasilkan telur dan daya tetas tertinggi dibanding dua spesies yang lain. Kombinasi pakan buatan ditambah sawi hijau memberikan pertumbuhan dan produksi telur lebih baik dibanding kombinasi pakan buatan ditambah daun pepaya, demikian juga perbandingan jantan betina 1:5 menghasilkan daya tetas terbaik untuk ketiga spesies. Pada pemeliharaansecara massal, padat penebaran yang makin tinggi cenderung meningkatkan mortalitas dan menurunkan produksi telur kumulatif. D0200166
Minggu, 11 Mei 2014
Penanganan Murai Batu Ngelowo atau ngeBatman
Menurut saya kalau murai nglowo ada 2 penyebabnya, 1. Nglowo karena terlalu Jinak,,,,, 2. Nglowo karena Over Birahi. .... Penanganannya berbeda.. »»Kalau nglowo terlalu birahi eksfood di stop dulu. atau paling tidak dikurangi sesedikit mungkin, usahakan biar makan voor saja+ ditempel terus betina untuk beberapa hari sampai birahinya turun sendiri. kalau nglowonya sdh hilang baru cabut betinanya dan exsfoodnya bisa dinaikan kembali bertahap. ..... »»Untuk penanganan murai ngelowo akibat terlalu jinak harus diberi perlakuan full krodong,, biasanya kalo full krodong taruh ditempat sepi yg bukan lalu lalang orang murainya jadi agak giras, beberapakali murai saya juga seperti itu, pertama jinak banget, sesudah dibiarkan ga terlalu dirawat dia jadi agak liar karena jarang ketemu orang, saya krodong kasih makan voor saja. tidak dikasih jangkrik, tidak dikasih kroto, mandi pun jarang paling 2 minggu baru dimandikan kotoranpun dibiarkan saja tidak dibersihkan, hanya dipantau voor dan air minumnya saja setiap 2 hari sekali .memang exstreem tapi saya sendiri sih sudah berhasih hanya memang cukup lama prosesnya kurang lebih 6 bulan baru MBnya mulai agak liar. kalau sdh agak liar jangan kasih makan pake tangan , jangan suka masukan makanan kedalam sangkar kalau burungnya didalam. .... Sekian mungkin bisa jadi solusi murai anda yang ngelowo
Sabtu, 10 Mei 2014
Sang Pejantan Tangguh
Murai batu bukanlah burung yang selalu romantis, tapi prortektif terhadap pasangannya dan sangat menjaga wilayah teritorialnya tempatnya bersarang dan mencari makan####
jodoh tak harus :::
*** tidur berdempetan.
*** makan selalu bareng/ saling menyuapi.
*** tidak musti sering rukun,akur, bahkan bercumbu seperti lovebird-sang pecinta #### Apabila jantan mengalah dengan betina,"INI WAJAR" itulah kejantanan sejati.####
Namun ketika generasi penerus tahta,putra mahkota lahir dan menetas,
disini dapatlah dilihat keromantisan itu sesungguhna ada . Menjaga dan menyuapi anak, membersihkan sarang dari hal yang mengganggu tumbuh kembang sang calon pangeran, sigap dan siap hadapi segala yang mengancam si kecil,menjaga juga merawatnya dgn kasih sayang ...
Itulah kehidupan yang mementuk mereka,, Itulah cara mereka untuk bertahan,,
Mekanisme pengiriman burung melalui kargo pesawat
Sedikit share pengalaman dari seorang kawan dalam pengiriman burung lewat udara, melalui kargo pesawat.
.. Pertama anda harus pergi ke dinas KP2T (Kantor pelayanan perizinan terpadu) untuk mendapatkan surat ijin, di kantor ini dikenakan biaya 100rb rupiah burung tidak dibawa.
... Setelah itu lanjut ke dinas karantina hewan pertanian dan peternakan. Dengan membawa surat dari KP2T dan burung disitu kita dikenakan biaya 150rb. Nanti kita mendapatkan surat kesehatan hewan dan surat karantina.
... Setelah mendapatkan surat kesehatan hewan dan surat karantina anda tinggal pergi ke cargo pesawat (klo saya menggunakan cargo pesawat *sriwijaya air)....dibagian cargo kita dikenakan biaya 100rb *bengkulu-jakarta)... Ditempat ini kita membawa burung dan surat dari KP2T dan Dinas karantina... ketika pengiriman surat tersebut dikelipkan dikandang burung....
Jangan lupa untuk packing kandang dengan baik,, yang nyaman untuk burung yang kita kirim juga sesuai prosedur cargo pihak maskapai.
... Begitu kira-kira info yg saya dapat... Ternyata ga begitu susah,hanya perlu berkorban waktu sedikit.
Langganan:
Komentar (Atom)